Kamis, 06 Februari 2014

“It is not the mountain we conquer but ourselves.” ( Bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi diri sendiri ) - Edmund Hillary

Pa, bantuin "ngretek" punggung donk. "krak..krak..krak" itulah suara yang terdengar ketika papa membantu menekan bagian punggungq. Ya, itulah efek yang q rasakan semenjak 3 hari yang lalu turun dari Gunung penanggungan (14 Januari 2014). Inilah perjalanan pertama pendakianku di tahun 2014, antara terjebak dengan keinginan mencoba, keinginan untuk berkumpul dengan kawan lama, dan keinginan untuk mengisi waktu liburan daripada bengong sendirian di rumah...hehehhee

Yah, perjalanan pun dimulai dengan kebimbangan karena semakin mendekati hari H, teman-teman terdekat memutuskan untuk tidak bisa mengikuti trip ini. Belum lagi ajakan dari kawan-kawan SMA yang mengadakan trip yang lebih menyenangkan ke G. Kelud, larangan mama yang gak ngebolehin mendaki gara2 cuaca yang tidak mendukung. Sehingga berbekal nekat dan rayuan disana sini, akhirnya aku pun berhasil menjebak dua orang temanq untuk mengikuti perjalananq ini. Detik2 disaat keberangkatan pun, banyak banget halangan yang dialami, mulai dari kepulangan kantor yang telat gara-gara dapet tugas dadakan dari pak bos yg urgent bin darurat, deg deg derrr karena ternyata ada desus mbak yang nyebelin bin  ngebetein bakal ikut dalam trip ini, celingak celinguk mencari rumah sang pemilik tenda, membawa pulang dua tenda dan 3 sleeping bag d bagian depan motor, hingga teman2 dari Gresik yang tidak mendapat angkutan umum Damri untuk di tumpangi hingga ke Bungurasih, belum lagi lupa membeli tabung gas untuk persiapan masak disana. RIBET adalah kata yang tepat menggambarkan kondisi disaat itu. Tapi akhirnya cerita perjalanan pun dimulai. Dengan berbekal dari belas kasihan papa yang mau mengantarkan anaknya, kami pun sampai di terminal Pandaan, bertemu dengan rekan seperjalanan yang lain dan dijemput oleh romo Endro untuk membantu kami sampai di kaki gunung Penanggungan.

Here we go!!
Dengan tim yang berjumlahkan 12 orang, kami memulai perjalanan tersebut dari titik yang dinamakan Rondo Kuning, dekat dengan Ubaya Trade Center. Lupa waktu itu menunjukkan jam berapa, yang pasti disaat orang lain terlelap dan terbuai dalam mimpi, kami harus melawan udara dingin dan jalan yang becek untuk menjelajahi gunung itu. Diantara 12 orang itu, tetap saya yang bertubuh paling tambun dan paling lemah kondisinya berguling di lantai abisnya udah bawa badan yang lumayan berat, tas yg cukup lumayan berat, harus menahan ngantuk yang berat juga *edisi berat. Oleh karena itu, tim pun terbagi menjadi dua. Tim yang pertama melesat dengan cepat beranggotakan 4 orang pria dan satu orang wanita, sedangkan tim kedua yang berjalan perlahan namun pasti *pasti lamanya tapi... hahahaha* beranggotakan 3 pria dan 4 wanita. Weh,, benar-benar perjalanan yang melelahkan, perjalanan yang lumayan menanjak mengakibatkan saya harus jatuh bangun, untungnya cuma sekali doank tersenyum lebar, menghabiskan hampir 1.5 Liter air mineral, dan menahan berat tubuh saya dengan botol minuman tersebut. Setiap kali ada kesempatan berhenti, selalu yang saya pikirkan adalah kapan bisa memasang sleeping bag.. wkwkwkwkwk... saya pergunakan untuk tidur walaupun hanya sempat memejamkan mata sejenak. Disaat yang lain berusaha untuk cepat naik agar bisa beristirahat, selalu ada mb Silvana, mz Yestri dan mz Bram yang selalu menemani dan menguatkan saya dikala saya harus merehatkan tubuh *takut saya kenapa-kenapa kali ya. soalnya pasti gak ada yang bisa gotong tubuh saya kalau memang terjadi apa-apa.. hehehehe menjulurkan lidah*. Tapi ku akui, pemandangan didepan mata kami begitu nampak luar biasa, gunung Arjuna yang menjulang tinggi, lampu-lampu kota yang semarak dan berkelipan. Kok ya untung tidak ada badai dan hujan saat itu, jadi langit pun nampak bersih. Oiya, satu hal, berhubung kami naik pada musim hujan, masih banyak pohon dan rerumputan disekitar kami.

Tet tot...
Tepat jam setengah tiga pagi, akhirnya kami sampai juga di Latar Amba. Tempat yang cukup luas dan banyak sekali yang berkemah disana, namun apa daya karena kami mengejar untuk sampai puncak, kami hanya diberi waktu 10 menit untuk beristirahat tanpa memasang tenda.

"berasa kaya korban perang"

Sepuluh menit pun berlalu dengan begitu cepat. Tanpa mau mengerti perasaanku saat itu, mz Bram selaku satpam siaga tersenyum lebar membangunkan kami semua untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Semakin parah saja perjalanan kami..ckckckck..berasa kaya rock climbing, kami harus mengalahkan jalanan yang cukup terjal bagiku, dengan bebatuan yang sangat sangat sangat sangat tidak bersahabat *lebay*. Setiap 3 hingga 4 langkah, harus menghentikan tim untuk memberikan waktu bagiku beristirahat. Oalah yo, kapan perjalanan ini akan berakhir pikirku. Seandainya ada kamera, pasti tanganku sudah melambai menandakan aku sudah menyerah. Lagi-lagi tiga orang penyelamat itu selalu menyemangatiku *luph you guys* jatuh cinta
Pose di tengah bebatuan

Hampir mendekati puncak, hampir tidak ada vegetasi yang hidup kecuali rumput, tersisa aku dan mz Bram yang berada di akhir kelompok. Rm. Sabas pun akhirnya turun untuk sekedar melihat kami. Salah deng, ngece lebih tepatnya... hahahaha.. tapi kok ya punya romo yang baik tuh enak, sisa perjalanan ke puncak, aku digeret layaknya sapi *LHO!!!. Dengan berbekal sarung andalan beliau yang entah bekas ngiler semalam, aku ditarik hingga sampai ke puncak. Disambut sorakan oleh kawan-kawan yang lain dan jepretan foto oleh romo Eko, akhirnya aku berhasil sampai ke puncak.

Gresik United tersenyum lebar

Sleeping Bag, I'm coming...
Setelah puas dan menikmati pemandangan sejenak, akhirnya kami pun turun ke lembah (sepertinya bekas kawah dulunya). Disana sudah pada berkumpul para seminaris, romo, dan kawan-kawan lain yang sempat mendirikan tenda dan lebih dulu melakukan perjalanan sore hari. Numpang masak mie, minum energen, menyapa beberapa orang yang kukenal dan tidur serta kangen-kangenan ama sleeping bag pun kulakukan... hahahahaha.
Karena mayoritas beragama Katolik, kurang lebih pukul 08.30, misa kudus dengan selebran romo Eko pun dimulai. Yah, ini juga misa pertamaku ketika perjalanan mendaki. Seru, keren, tidak begitu formal, berasa artis (banyak yang jepret-jepret pake kamera sih.. wkwkwkwk), namun tetap kusuk ditemani hembusan angin yang lumayan kencang. Terima kasih karena masih diberikan kesempatan untuk menerima komuni kudus di ruang terbuka.

Setelah selesai perjamuan kudus, saatnya berbenah diri dan waktunya untuk pulang. Tepat pukul 11 siang, kami pun mulai turun.
Tim Malam

BUSET!!! perjalanan turun pun tidak jauh lebih parah ketika perjalanan naik. Kami melewati rute yang berbeda ketika kami turun. Sengaja dilewatkan jalur barat yang nantinya kami bisa melihat peninggalan-peninggalan bersejarah. Kali ini selain botol air mineral, tongkat pun menjadi peralatan perang yang kubawa. Jalanan terjal dan curam (kurang lebih kemiringan 60 derajat), serta kerikil dan bebatuan kecil yang  membuat kami agak berhati-hati ketika turun serta berundak-undak. 

Medan perjalanan turun

Di beberapa titik, kami beristirahat ditempat dimana ada candi. Saling bercanda, minum susu jahe, dan kembali melanjutkan perjalanan, itulah rutinitas kami hampir kurang lebih selama 4 jam. 
POse dulu "cheese"


Mulai dari ada beberapa orang yang tersesat karena mereka merasa tahu jalan, mb Silvana yang merasa kecapean karena membawa dua tas punggung yang lumayan berat, hingga mz Yestri yang sangat kelelahan karena perjalanan terlalu lama dikarenakan dia rela menemani temannya yang bertubuh tambun untuk berjalan agak sedikit lambat dari yang lain *baca: aku. Tepat pukul 16.30, kami pun sampai di lokasi candi Jolotundo, lokasi terakhir sekaligus titik akhir dari perjalanan kami. Sueneng, campur legrek campur capek campur remek, itulah yang kurasakan. Dengan menumpang mobil pick up milik Jatijejer, kami pun dihantarkan pulang kembali ke titik awal UTC. Disana pun aku boleh bertemu kembali dengan papa yang menjemputku. ZzzzZzzz, perjalanan pulang kembali ke Surabaya pun diisi dengan tidur dan keringat yang bercampur aduk. hehehehhee



"It is not the mountain we conquer but ourselves. (Bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi diri sendiri) - Edmund Hillary"


itulah judul album foto milik mz Bram di media sosial. Setelah kupikir, ada benarnya juga kalimat tersebut. Bagiku, bukan gunung Penanggungan yang ku taklukkan, melainkan rasa kantuk,rasa lapar, rasa capek dan kekhawatiran terhadap diriku sendiri. Dan rasa terima kasih yang begitu besar untuk tim yang selalu support aku terutama untuk mb Silvana yang unyu dan enerjik, mz Yestri yang kalem dan begitu sayang terhadap saudara seperti saya, dan mz Bram yang selalu nampak garang namun selalu membantu saya.




2 komentar:

  1. hmmm nice trip....lalu kapan mau balik ke ranu kumbolo??sampe puncak ato kecek di di ranu aja hehehhe :P

    BalasHapus
  2. kecek di Ranu aja, klo mak, aku muncak, aku nunggu kmu ae mb. Jadi qta tetep isa bareng-bareng *bareng2 istrihat e maksdq. hahahhaa

    BalasHapus