Orang bilang, hidup itu selalu
penuh dengan kejutan. Itulah yang terjadi padaku saat ini.
Bermula dari titik awal
perjalanan kami di desa Tambak Watu kecamatan Purwodadi, kabupaten Pasuruan,
jalur yang akan kami lalui merupakan salah satu jalur spritual dimana setiap
pos yang dilewati masih sering didatangi para peziarah untuk bermeditasi dan
berdoa. Desa Tambak Watu merupakan desa terakhir dan sekaligus merupakan pos
pendaftaran sebelum memulai perjalanan pendakian ini. Dengan membayar iuran kas
desa dan pemerintah sebesar Rp. 8000/orang, kami pun diijinkan untuk memulai
perjalanan.
Medan yang berbatu-batu dan senantiasa terus menanjak, selalu
menemani langkah perjalanan kami hingga sampai ke puncak. Satu demi satu pos dan
padepokan pun kami lalui. Pos pertama Guo Onto Boego, kemudian Tampuono, padepokan
Eyang Sakri, padepokan eyang Semar, dan pos terakhir tempat dimana kami
menginap yaitu Mahkutoromo. Selain diantara pos-pos tersebut, kita juga akan
menemukan beberapa tempat untuk peziarahan, diantaranya padepokan eyang Sekutrem,
eyang Abiyoso, Dewi Kunthi dan pos Syang Hyang Wenang yang bertuliskan huruf
aksara jawa.
Melanjutkan perjalanan dengan
membelah hutan yang lebat dan menyusuri kembali jalanan yang terjal untuk
menuju puncak bukanlah hal yang mudah bagi kami yang tidak terbiasa mendaki
gunung. Namun semua rasa lelah terbayarkan ketika mata ini dimanjakan dengan
pemandangan alam yang begitu luar biasa. Gemerlap lampu kota di bawah kaki gunung,
bintang-bintang yang bertaburan diangkasa, beberapa jenis bunga yang indah dan
berwarna-warni serta hawa sejuk yang tidak akan pernah kita dapatkan sebagai
penduduk kota tak luput kami dapatkan tatkala dalam proses perjalanan menuju ke
puncak.
Puncak Gn. Semeru dari badan Gn. Arjuna
Mendadak
hampir tidak ada satu kata pun yang dapat ku ucap selain melamun dengan senyum tatkala
ketika pagi itu bisa menikmati saat mentari mulai bersinar dengan begitu indah.
Kehangatan mentari yang boleh kami rasakan ketika hampir kurang lebih 6 jam
kami melakukan perjalanan menuju ke puncak Gn. Arjuna. Pesona alam yang
disajikan serta kehangatan canda tawa teman-teman menggugah niat dan semangat
untuk menuju ke puncak dan membawaku hingga ke ketinggian 3339 mdpl dengan
waktu tempuh total perjalanan sekitar sembilan setengah jam perjalanan lambat. Rasa
haru dan bangga bercampur jadi satu tatkala kami berhasil mendaki hingga ke
puncak.
Beberapa saat setelah
mengabadikan momen tersebut, rombongan pun bersiap-siap untuk turun. Tidak jauh
lebih menantang dari perjalanan naik, perjalanan turun pun menguras banyak
tenaga, dan disinilah perjuangan kami kembali diuji. Disinilah cerita yang
sesungguhnya dimulai, karena disaat seperti ini kami harus bersahabat dengan
jalanan turun yang lumayan terjal dan curam. beberapa dari kami terpaksa berjalan turun
dengan tidak seperti biasanya. Berjalan dengan tidak menggunakan kaki melainkan
mengandalkan kekuatan tangan sembari duduk beralaskan tanah. Kejutan tidak
hanya disitu saja, saya mendapatkan hadiah berupa cidera di kaki, dan akhirnya
saya pun kembali menghabiskan waktu yang cukup lama untuk kembali dengan
ditemani oleh seorang romo yang sudah paham dengan jalur tersebut. Namun
disitulah perjuangan yang sesungguhnya lebih menampakkan diri. Mengesampingkan
rasa ego, malu, dan capek, mengedepankan rasa memiliki, melayani sesama, sabar
menanti, peduli dan peka. Hingga kami semua boleh selamat berkumpul kembali
bersama rombongan yang lain.
Para Ngesoter
Bukan gunung yang kami
taklukkan, melainkan menaklukkan diri sendiri dan keegoisan pribadi. Cepat atau
lambatnya seseorang bisa naik dan turun
hingga sampai ditempat yang akan dituju bukanlah tujuan kami, melainkan yang
terpenting adalah proses bagaimana kita menjalaninya dengan tekad dan semangat
yang kuat. Mendaki ketinggian untuk mencapai kedalaman hati itulah kalimat yang
tepat untuk menggambarkan kami dan memampukan tiap dari kami untuk menjadi
pribadi yang jauh lebih baik.