Jumat, 17 April 2015

Menerjang tembok

Sudah begitu lama rasanya tidak merasakan perasaan yang seperti ini. Bebas. Kocak. Gila. Mungkin tiga kata tersebut yang mampu menggambarkan apa yang kurasakan selama 3 hari berturut-turut.

Hari pertama diisi dengan yang namanya "GILA", awal berangkat menuju Bandung untuk mengemban tugas hanya selama dua hari, waktu tidur yang kurang dikarenakan harus loading mesin tengah malam, ajakan teman KMK untuk melakukan reuni kecil-kecilan di grup salah satu media sosial, waktu check in penerbangan kembali ke Surabaya yang begitu mepet apalagi harus mengingat bahwa untuk check in saja saya harus rela turun dari taxi dan berjalan tergesa di bawah panas terik matahari karena macet di sepanjang jalan menuju arah bandara. Tidak berhenti di situ saja, begitu turun dari pesawat, kembali harus mengejar waktu dikarenakan reuni KMK yang telah berlangsung kurang lebih satu jam. Takut kehilangan momen, PASTInya, akhirnya ku paksakan diri untuk tetap berangkat menuju reuni tersebut. Kaku, ngomong seadanya, ternyata hanya di awal, setelah itu malah bikin berisik dan kehangatan menyebar di seluruh ruangan.

Hari kedua diisi dengan yang namanya "KOCAK", nonton pilem ff sepen bareng kawan-kawan seperjuangan semasa mbolang. Berhubung kerjaan baru kelar setelah lewat jam pulang kantor yang seharusnya, akhirnya keberangkatan menuju bioskop tidak jadi ikut gabung dengan 3 kawan yang lain. Dan berhubung masih belom ahli di bidang dunia setir menyetir permobilan, kembalilah aku kepada si bleki. Ku parkirkan di samping mall, dan langsung masuk untuk menuju bioskop. kekocakan pertama dimulai didalam studio, meskipun pilem yang ditonton banyak adegan eksien, kami bertiga yang mengakukan diri sebagai wanita tetep aja ngobrol dan ketawa ketiwi. Kekocakan yang kedua, selesai nonton, aku pun berlarian ke toilet meninggalkan kawan-kawan yang lain dibelakang hanya karena tidak bisa menahan HIV alias Hasrat Ingin Vivis.  Banyak toilet namun yang ditunggu antrian hanya dua, bukan karena penuh, namun hanya karena tampak tertutup, antrian didepan tidak berani membuka *termasuk saya. Kekocakan yang ketiga terjadi dengan prinsip "mending nyasar di hutan daripda nyasar di mall" cuma gara-gara sudah di antar oleh kawan-kawan menuju pintu keluar,  namun saya malah lupa tadi saya masuk dari pintu yang mana. MALU, iya, cuma ya gimana lagi, emang tidak pernah bersahabat dengan yang namanya mall. Berasa katrok ni ye....

Hari ketiga diisi dengan membawa esklim yg cukup banyak menuju tempat yang lumayan jauh dengan mengendarai si bleki.  Bayangkan aja, cewek, naik motor, perjalanan jauh, di boncengan belakang bawa box berisi es krim, apa ndak dikira orang katering. ckckckck
Sudah bawanya butuh perjuangan, eh sampai di tempat si esklim malah meleleh ra karuan. Belum lagi "memanaskan" siomay dengan minyak yang cukup panas, alhasil warna coklat cenderung hitam yang didapat. oh mi god. Untung masih bisa di makan rame-rame. Tak lupa hal terakhir yang dilakukan untuk menutup hari adalah memberi waktu untuk "memulihkan hubungan" dengan sang Pencipta di tempat yang baru bagiku, udara yang sejuk dan diperbolehkan mengenal orang-orang yang melayani di bangunan tersebut. Kunjungan di rumah umat, ngobrol dengan kehangatan penduduk lokal. Ya, rangkaian misa sederhana dengan orang-orang, sahabat dan para pelayan Tuhan yang melayani dengan cara yang luar biasa. Tidak berhenti disitu saja, Pulang malam dengan ditemani jalan yang gelap, hujan deras serta pakaian yang basah kuyup, namun ke"BEBAS"an yang  tetap senantiasa menyertai dan menduduki peringkat teratas di hari itu.

Tiga hari yang benar-benar menerjang "tembok" diri sendiri :)