hmmm.. bingung mw cerita apaan.. cerita ttg pengalaman pendakian pertamaq pas ke Jember kemarin.
Ajakan bermula dari seorang temen di gereja Sakramen Mahakudus, gerejaq
saat ini. Berhubung yang dy ajak temen cowok semua, maka mau gk mw aku ngajak
satu org temen cewek buat ikutan daripada aku jd wanita tercantik di tengah
penyamun.. hahahaha.... Alhasil kami pun sepakat berangkat hari Jumat pagi
(bolos dahhh kerjanya) cuman buat ngerasain yang namanya mendaki tuh kyak
gimana sih apalgi dengan label "backpacker", nampaknya sangar
kaya preman di terminal gitu kedengarannya. Janjian jam 7, sudah q tunggu di
terminal seorang diri kaya anak ilang, trnyt pada datengnya jam 8 . Hmmm,,, sebel
gtuu rasanyaaa nungguin, cm ya mw gmana lgi drpd marah2 malah ngehabisin
tenaga, y mending buat ngecengin tukang tahu sapa tw dapet gratisan tahuu..
huahahahha... perjalanan ditempuh kurang lebh 5 jam an, sampai dirumah
temannya temanq langsung disambut mie baksooo yang sambalnya bikin netesss saking
pedasnya

Sayangnya, ke 6 cowok-cowok yang ikut dlm perjalanan ini tidak punya
keinginan untuk jalan2 separah kami yg cewek, alhasil setelah makan kami pun
segera bergegas mandi dan melakukan perjalanan kami sendiri. Dengan berbekal
mulut yang cerewet dan beberapa lembar uang 20 ribuan, kami pun naik angkutan
umum. Dan tujuan pertama kami adalah alun-alun dimana Jember Festival Carnival
akan diadakan. Kami begitu semangatnya ketika menuju perjalanan ke alun2, jalan
sekitar kurang lebih 1,5 km pun kami jabanin demi mendapat angkot untuk
menghantar kami kesana. ternyata halangan gk sampai disitu aja, jarak sekitar
750 m dari alun2, jalan sudah ditutup oleh pak pol yg tua dan berperut
buncit, so mau gak mau harus gak harus jalan lagi akhirnya kami. Sesampainya di
alun2, JFC hari pertama ternyata baru saja selesai. Hmmm,, sedikit kecewa
memang, namun tidak mematahkan semangat kami untuk tetap bertanya kepada
panitia jadwal festival selanjutnya dan berapa yang harus kami bayarkan.
Setelah puas bertanya-tanya, kami pun segera melanjutkan perjalanan kami
teng teeereeeeereeenggg teeenggg
es ALPUKAT!! hahaha.. kami minum itu, berhubung semua yg jualannya dagangan
da habis, hanya tersisa itu saja. Seger nikmat dan manis nya bukan main...
paling gak sudah menyegarkan dan membasahi kerongkongan kami yang sudah
melakukan perjalanan jauh serasa di padang gurun #lebay. Setlah kami
menghabiskan es kami masing-masing, bingung mau kemana lagi karena memang kami
tidak tahu jalan, mbah gugel lah yang berbicara bersama dengan kenekatan kami.
tujuan berikutnya adalah WEDANG COR!! unik dan aneh dari namanya, namun itu
yang membuatq penasaran dan secara gk langsung memaksa kawanq untuk mencoba dan
datang kesana (qta panggil sari yaaa...). Lets GO!! cap
cuzzz.. buuzzz... sambil bertanya2 dn pdkt serta SKSD ke para sopir angkot,
akhirnya kami menaiki lagi satu angkutan yang menuju kesana... ngenggg
ngeeengggg brumm brruummm... waktu sudah menunjukkan pukul 18.05 dengan di
dampingi sopir angkot yang qta belum kenalan dan gk tw namanya, serta abang
becak yg dapet rejeki nomplok sekaligus sial karena membawa beban berat seperti
saya #lho... akhirnya sampai lah kami ke warung yang menyediakan wedang cor.
warung yang berukuran kurang lebih 2 x 4 m ini lumayan ramai dikunjungi
walaupun tempatnya terpelosok dan kami pun langsung memesan 2 wedang cor.
sembari menunggu ibu2 yg sudah lumayan uzur membuatkan dua gelas wedang cor
hangat buat kami para bidadari (ceeileee
), kami pun
nyamil berbagai macam gorengan hangat yang tersaji di depan kami. Entah karena
kalap, rakus atau memang karena lapar, 1 buah pisang goreng, dua buah tempe dan
dua buah tahu petis sudah habis q telan sambil bertanya2 kenapa disebut wedang
cor
Minuman hangat yang terbuat dari jahe dicampur ketan hitam dan putih, serta
susu kental manis bukan cap nona. Setelah kenyang, kami pun beranjak pulang
untuk mencari makanan yg jauh lebih berat dari gorengan
Cuuuzzzz... nasi goreng pak kibul yang menjadi pilihan kami. Pedagang kaki
lima yang nampaknya cukup sukses dan tempatnya cukup strategis karena berada di
pinggiran jalan utama kota Jember. Sembari menunggu makanan kami datang dan karena
antri yang cukup panjang, perut tidak bisa di ajak kompromi.. kena HIV lah aku
akhirnya (jangan mikir yang aneh2,, HIV tuh Hasrat Ingin Vivis.. wkwkwkwk).
bingung cari kemana, akhirnya dengan modal tampang memelas dan meminta tolong,
bank BRI depan pak Kibul lah yang jadi sasaran tempat pembuangan kami. Kok ya
untung satpamnya baik hati dan tidak sombong tapi gak tau suka nabung gk, kami
pun numpang buang air kecil disitu. Kenyang dan puas, itu yang kami rasakan
setelah menghabiskan 1 piring nasi goreng, 1 piring mie goreng dan 2 gelas teh
hangat. Setelah kenyang, kami pun pulang kembali dengan perasaan "kapok
kalian gk bisa menikmati jember sama seperti kami".. hehehehe 
Karena keseringan ku teror kali ya, temanq yang namanya churchill (ini nama
sebenarnya) akhirnya memutuskan kita akan berangkat ke Ijen pukul 02.00
keesokan harinya. So, mau gak mau aku dan mb sari tidur cepet biar bisa bangun
pagi, lagian kami juga sudah kecapean karena sudah cukup banyak pemanasan yang
kami lakukan sebelumnya (baca: jalan kaki). TEETT!! waktu menunjukkan sekitar
pukul 01. 50 kalau gk salah, alarm di handphone q pun berbunyi dan segera lah
aku bangun dan membangunkan teman satu ranjangq tapi apa
daya, di saat kami sudah bangun, gosok gigi, cuci muka, tanpa mandi eh, yang
lainnya masih asyik bermimpi, ngiler maupun mengeluarkan bunyi2an yang aneh.
Bergumam kami jadinya, kami tinggal bergosip dengan modal cerita yang ngalor
ngidul alias gk tentu apa yg d obrolin hingga waktu menunjukkan pukul 02.00
dengan suara alarm milik churchill yang berisiknya sampe berlutut minta ampun
cuman ya gitu, anak2 yang lain mah gk berefek dan tetap terpejam dengan
tenangnya. Terbesitlah suatu ide dari churchill untuk membangunkan mereka,
sekedar tahu saja, churchill paling suka main game d line namanya tinyfarm. Dy
langsung memainkan game tersebut dengan sengaja memperbesar suaranya, dn
mungkin karena emang terlalu berisik dalam waktu yang cukup lama, berhasil lah
satu persatu orang tersebut bangun dr tidurnya. Cuci muka, nyanyi, gosok gigi,
bahkan ada dua orang yang mandi pagi buta... hmmmm.. untung lemak mereka
tebal2
Satu mobil APV di isi orang 9 yang sebagian berbadan tambun seperti diriq,
bayangin sempitnya mintaa ampun. kok ya untung karena kami berdua cewek, kami
di tempatkan di belakang bersama dengan churchill. bangku tengah diisi 4 orang
yang mau gak mau salah seorang hanya menempatkan *maaf* setengah pantatnya
untuk duduk. Perjalanan kami melewati Bondowoso dan di tempuh kurang lebih
selama 3,5 jam (karena buta jalan).
Taraaaa!! sampailah kami di kawasan lokasi kawah Ijen. Foto2 pasti, lapar
pasti, cm yg paling parah tuh pas HIV timbul di saat yang tak tepat (baca
cerita sebelumnya). Mana toilet
yang berjejeran dan telah disediakan tak bisa digunakan karena simpanan air
telah habis dan menunggu untuk diisi (semakin memperparah situasi). Seandainya
kami cowok, pasti kami bisa dengan seenaknya membuang hasrat kami dimana
saja
Perjalanan pun dimulai. Dengan semangat 45 kaya pahlawan mau berperang kami
pun bergegas untuk mendaki perjalanan yang cukup terjal dengan membawa amunisi
berupa berliter-liter AIR MINERAL. bayangin aja betapa berat tas yang dibawa
oleh teman2 q demi menghidupi kelompok kami (BRAVO!!). Awal perjalanan begitu
menyenangkan, banyak canda, ketawa, ketemu banyak bule, trs ngobrol. Setiap 5
menit kami berhenti untuk beristirahat dan poto2 pastinya. Kebanyakan
istirahatnya malah daripada jalannya.. hehehehhe... maklum, beberapa dari
kelompok kami ternyata ini adalah pendakian pertama. Saling menyemangati dan
tidak meninggalkan rekan dalam keadaan apapun itulah yang menguatkan kami satu
sama lain. Dan akhirnya sampailah kami di kawah Ijen yang kami nantikan dengan
menempuh jarak 3 jam perjalanan. Yah meskipun kami tidak bisa menikmati blue fire yang katanya keren pake banget, tapi kami tetap mencoba untuk menikmati perjuangan kami.
Beh, bangga, senang, capek, tpi lumayan terbayarkan dengan pemandangan yang
ditawarkan, angin yang lumayan kenceng (kaya iklan shampoo yang bisa bikin
rambut gerak-gerak) serta bau belerang yang menyengat (dan mungkin ada tambahan
bau kentut juga yang kita tdk tahu asal muasalnya.. hahahaha). Di sekitar Ijen,
banyak sekali tumbuhan yang kering dan mati meninggalkan sisa ranting tanpa
daun namun banyak juga pesona alam yang hijau ataupun langit biru yang
membentang luas. Sejenak foto2, nyamil, dan berkenalan dengan bule dari
Singapore dengan bahasa inggris kami yang agak sedikit berantakan. Kami pun
segera turun karena semakin lama bau belerang semakin menyengat. Waktu tempuh
perjalanan pulang tidak selama ketika perjalanan naik. Hanya butuh waktu satu
jam plus plus. Plus tergelincir, plus debu, plus jatuh bangun aku mengejarmu
#nyanyi
Sumpah!! dengan bawa beban badan aja udah berat, belum beban tas, ndak lucu
kan klo aku beneran jatuh, bak galon air yang diturunkan dari ketinggian terus
menggelincir ke bawah
Tuhan pun mendengar seruan doaku *mungkin karena tuhan gk mau ada gempa
dadakan kalo aku jatuh kali ya* ada seorang bapak2 penduduk setempat yang
menggandeng tanganq (sambil bayangin seorang pangeran tampan). Dan akhirnya
sampailah akhirnya kami d parkiran tempat kami menaruh mobil kami, dengan muka
yang kucel kami pun segera bebersih diri sebelum masuk ke mobil sambil mencari
cari nafas yang sudah hampir hilang. Turun dari lokasi kawah Ijen, aliran sungai belerang tak luput kami nikmati juga. Kemudian kami pun beranjak untuk pulang karena matahari pun sudah malu-malu untuk menampakkan dirinya lagi.
Keesokan hari, tepat hari minggu, yah...hari terakhir kami boleh menikmati kota Jember, tim kami pun terbagi menjadi dua bagian. Satu tim yang diharuskan untuk pulang kembali ke Surabaya, dan tim satu lagi yang ingin melanjutkan perjalanan menuju area JFC. Ternyata perjuangan pun tetap harus kami nikmati, mulai dari naik angkot yang harus muter2 nyari jalan, desak2an dan adegan dorong2an kaya mahasiswa lagi demo demi ngedapetin spot untuk mengabadikan momen JFC atau hanya sekedar memanjakan mata dengan pesona karya rekan2 melalui baju yang mereka gunakan, hingga mengejar waktu menggunakan ojek hanya untuk mendapatkan buah tangan buat orang-orang tercinta yang udah nitip dengan susah payah ngerayu kami
dan akhirnya pun ujung-ujungnya kami membeli oleh2 tersebut di terminal.
Sepenggal cerita tentang Jember - Ijen dan kawan2nya.. masih banyak tempat yang indah yang belum kunikmati.. wait for me yak for the next trip
*ngemengepecoba
tulisan yang dulu kemane dut?
BalasHapus