Rabu, 29 Januari 2014

Ketika suatu gelar menjadi tidak ada nilainya ...

"Nanti bantu aku untuk melihat apa saja pengeluaran yang dikeluarkan ya", "siap pak, saya usahakan". Itulah sepenggal obrolanku dengan pimpinan di kantor kami. Ya begitulah cara saya menyanggupi tugas yang diberikan oleh kantor untuk mengikuti truk compactor yang beberapa bulan ini mulai mengisi hiruk pikuk kota Surabaya tercinta. Yang terbersit saat itu hanyalah bau sampah yang begitu menyengat dan bagaimana cara merayu orang tua supaya tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan saya. Saat itu yang saya punya hanya niat dan tekad seorang bonek tersenyum lebar *itulah orang muda.. hahahaha.. pembelaan.

Saya masih ingat, waktu itu hari Senin, sehari sebelum perjalanan mengesankan dimulai, saya pun diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bapaknya anak-anak alias bapak yang biasa mengatur 5 unit compactor yang dimiliki pemkot Surabaya (*sebut saja namanya pak Bas). Sowan sekaligus meminta ijin untuk ikutan keliling dan merasakan naik mobil bebas hambatan bangga diri. Dipilihlah rute TPS Pandegiling dan kawasan Suramadu Simpang Dukuh sebagai rute terpanjang. Ku pilih untuk mengikuti rute pandegiling terlebih dahulu, dan yang lebih bikin kaget bukan kepalang, mereka mulai berangkat dari Dinas Pertamanan dan Kebersihan kota Surabaya pukul 04.30 wib. BUSET!!! harus berangkat jam berapa ini mata berputar. Boro-boro mikir berangkat jam berapa, yang seharusnya dipikir malah bangun jam berapa dan bisa tidaknya mata diajak kompromi untuk bangun jam segitu tertawa. Saatnya untuk menyiapkan jubah perang dan segala perlengkapan lain. Tak lupa titip seorang kawan yang biasa ngeronda untuk menjadi alarm hidup tatkala alarm hp tak mampu kudengar berguling di lantai.

Hari pertama, sukses alarm hp bisa ku dengar dalam sekali bersuara, bergegas mandi lalu berangkat ke DKP yang terletak di dekat pasar Menur, Surabaya. Kondisi jalan yang masih sepi ditemani beberapa lampu jalan yang masih menyala, menahan dinginnya suasana pagi itu, dan harus balapan dengan tukang sayur maupun tukang daging yang akan menjajakan barang dagangannya, itulah sensasi yang kurasakan tatkala harus mengemban tugas negara *lebay dikit tersenyum lebar. TET! pas jam setengah lima, sudah ku sandarkan motor perangku di dekat garasi mobil ambulans, kemudian mendekati mobil perangku nantinya, mencoba berkenalan dan berpikir gimana caranya aku naik ya  berguling di lantai. Yah, dengan tubuhq yang tidak seberapa tinggi, dan lemak bertebaran dimana-mana alias gendut, ku beranikan untuk mencoba mengalahkan rasa takut jatuh dan mengalahkan rasa capek menahan berat badan hanya untuk menaiki mobil tersebut (masalahnya kalo ndak ikutan naik, masa ya ngikutnya jalan kaki tidak mau lihat). 
mobil perang C-02

Sebut saja C-01, C-02, dst, itulah nama yang diberikan untuk masing-masing compactor, dengan operator bernama pak Satrawi seorang operator yang sudah berumur namun masih berjiwa muda...hehehehe... truk C-02 melaju dengan santai. Kumis yang menempel hampir menutupi bibir atasnya, berperawakan tinggi dan kurus *berkebalikan dengan kondisiq.. hehe.. , tapi sangat takut dengan hal-hal yang berbau mistis *tidak sesangar tampangnya tertawa . Mulai dari pengambilan sampah dibeberapa titik sepanjang jalan Urip Sumoharjo, hingga pengambilan sampah yang tidak tertata di pinggiran jalan Pandegiling sebelah barat tak luput dari jalur operasi C-02. Dengan beranggotakan tiga orang, pak Wi, Pak Rohman dan satu lagi saya lupa namanya karena tidak sempat berkenalan, mereka dengan sigap memasukkan sampah-sampah tersebut kedalam compactor.



 




Penampakan sebelum pembersihan












Penampakan sesudah dibersihkan





Perjalanan menuju benowo...
Eng..ing..eng.. matahari pun enggan menampakkan diri, puji Tuhan ku haturkan, karena hampir seharian di hari pertamaku, aku bisa menikmati angin sepoi-sepoi ditemani lagu campur sari dan ini merupakan pengalaman pertamaku memasuki tempat pembuangan akhir (TPA) Benowo. Bau busuk mulai tercium dan sangat mengganggu tatkala kami sedang mengantri untuk menimbang muatan. Tapi bau itu seketika hilang ketika truk sampah yang mengantri didepan kami telah hilang dari hadapan. Tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya, TPA Benowo saat ini, bau yang menyengat hanya di beberapa titik saja, tidak di semua tempat. Tapi perasaan itu berubah ketika turun dari truk untuk sekedar melihat-lihat. Bau, becek, heran dan takjub campur aduk menjadi satu. Bau ketika sampah mulai diturunkan dari compactor kami, becek karena air lindu sisa pembuangan, heran karena banyak sekali sapi yang berada disana dan gemuk-gemuk pula, takjub karena banyak orang rela melakukan apapun demi menghidupi dirinya atau keluarganya bahkan sesuatu yang dapat mengancam kehidupan. Semakin lama saya berada di dalam truk, semakin banyak pula orang yang melihat diriku.. hehehe.. bukan karena aku cantik melainkan karena jarang sekali ada wanita yang mau menaiki truk, apalagi truk sampah. Merasa keren tentunya, tertantang juga, tapi yang lebih penting, sebagai orang baru saya sudah dianggap keluarga oleh keluarga compactor. Saya selalu diajak bercerita tentang kehidupan pribadi beberapa orang, ditawarin makan *mungkin kalo yang ini biar saya ndak kurus.. hahahaha, saya juga dijaga dari orang-orang yang mungkin berniat usil terhadap saya.


Menantang bahaya

Sapi pun makan dari sisa pembuangan

Setelah keluar dari TPA, kami pun berbelok sedikit melenceng dari rute, menuju ke sebuah warung kopi dekat gelanggang olah raga bung Tomo. Tambah terkejutlah saya ketika kami menginjakkan kaki di warung tersebut. Warung berukuran sekitar 4 x 5 itu cukup bersih dan ditungguin seorang cewek yang lumayan cantik.. wkwkwkwk.. jangan berpikiran negatif dulu, itu yang ada dipikiranku saat itu. Mbaknyak menjaga warung itu seorang diri, dimana para pengunjung yang datang rata-rata pria. Berani dan Semangat!! dua kata yang cocok kusandangkan untuk mbaknyak. Demi untuk bayar uang jajan dan kuliahnya, dia rela membuka warung. Beberapa pekerjaan yang dulu pernah dilakoni, tidak membuat dia merasa senyaman kerja sendiri seperti sekarang. Salut deh buat mbaknyak, semoga kelak menghasilkan buah yang manis buat jerih payah yang kau lakukan saat ini. SMANGKA!! hebat



Hari Kedua dan ketiga hampir sama rutinitas yang kujalani, berangkat subuh, ngedata kilometer brapa sudah berjalan, isi bensin, ngobrol, makan, dan tidur di iringi lagu campur sari serta dangdut tersenyum lebar.  Ya, tiga hari kujalani dengan rutinitas yang sama namun dengan rute yang berbeda dan teman seperjalanan yang berbeda. Tapi dari perjalanan tersebut banyak sekali ilmu baru yang kuambil, mulai ilmu yang kudapat dan kusimpulkan sendiri, bagaimana kita mampu berbagi dengan sesama (contohnya, sarapan bareng-bareng, dengan lauk seadanya dan dibagi-bagi), hingga ilmu tentang keluarga serta asmara yang kudengar dari cerita pak Awang serta Pak Wi.


Hidup dipandang bukan dari seberapa banyak yang kita miliki, namun seberapa banyak kita dapat bersyukur dan menikmati apa yang sudah menjadi jalan hidup kita saat ini ^^.
Disaat itulah sebuah gelar menjadi tidak ada nilainya.


GALERI
Setinggi inilah aku harus memperjuangkan tubuhku untuk menaikinya *lebay








Beginilah cara kerja truk compactor yang baru :)






Keringatmu permata bagiku




Cara kerja compactor ketika mengeluarkan sampah 






Model truk sampah yang lama









(: Keluarga compactor :)






3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. menghargai orang dsekitar kita tanpa memandang apapun profesinya....kyk live in atau ikt program jika aku menjadi :D

    BalasHapus
  3. Mnrt saya.. gelar bukan semata tambahan huruf konsonan di belakang family name kita. Atau pertambahan pengetahuan ttg subjek ilmu yg kita pelajari saja. Tapi lebih kepada salah satu tanda kita punya kedewasaan yg meningkat dan cara berpikir yg berkembang dalam menyikapi hidup..

    BalasHapus