Selasa, 12 Agustus 2014

Mendaki ketinggian untuk mencapai kedalaman Hati bersama para ngesoter’s


Orang bilang, hidup itu selalu penuh dengan kejutan. Itulah yang terjadi padaku saat ini.

Bermula dari titik awal perjalanan kami di desa Tambak Watu kecamatan Purwodadi, kabupaten Pasuruan, jalur yang akan kami lalui merupakan salah satu jalur spritual dimana setiap pos yang dilewati masih sering didatangi para peziarah untuk bermeditasi dan berdoa. Desa Tambak Watu merupakan desa terakhir dan sekaligus merupakan pos pendaftaran sebelum memulai perjalanan pendakian ini. Dengan membayar iuran kas desa dan pemerintah sebesar Rp. 8000/orang, kami pun diijinkan untuk memulai perjalanan.

Medan yang  berbatu-batu dan senantiasa terus menanjak, selalu menemani langkah perjalanan kami hingga sampai ke puncak. Satu demi satu pos dan padepokan pun kami lalui. Pos pertama Guo Onto Boego, kemudian Tampuono, padepokan Eyang Sakri, padepokan eyang Semar, dan pos terakhir tempat dimana kami menginap yaitu Mahkutoromo. Selain diantara pos-pos tersebut, kita juga akan menemukan beberapa tempat untuk peziarahan, diantaranya padepokan eyang Sekutrem, eyang Abiyoso, Dewi Kunthi dan pos Syang Hyang Wenang yang bertuliskan huruf aksara jawa.

Melanjutkan perjalanan dengan membelah hutan yang lebat dan menyusuri kembali jalanan yang terjal untuk menuju puncak bukanlah hal yang mudah bagi kami yang tidak terbiasa mendaki gunung. Namun semua rasa lelah terbayarkan ketika mata ini dimanjakan dengan pemandangan alam yang begitu luar biasa. Gemerlap lampu kota di bawah kaki gunung, bintang-bintang yang bertaburan diangkasa, beberapa jenis bunga yang indah dan berwarna-warni serta hawa sejuk yang tidak akan pernah kita dapatkan sebagai penduduk kota tak luput kami dapatkan tatkala dalam proses perjalanan menuju ke puncak.

 

 Puncak Gn. Semeru dari badan Gn. Arjuna


Mendadak hampir tidak ada satu kata pun yang dapat ku ucap selain melamun dengan senyum tatkala ketika pagi itu bisa menikmati saat mentari mulai bersinar dengan begitu indah. Kehangatan mentari yang boleh kami rasakan ketika hampir kurang lebih 6 jam kami melakukan perjalanan menuju ke puncak Gn. Arjuna. Pesona alam yang disajikan serta kehangatan canda tawa teman-teman menggugah niat dan semangat untuk menuju ke puncak dan membawaku hingga ke ketinggian 3339 mdpl dengan waktu tempuh total perjalanan sekitar sembilan setengah jam perjalanan lambat. Rasa haru dan bangga bercampur jadi satu tatkala kami berhasil mendaki hingga ke puncak.


 






Beberapa saat setelah mengabadikan momen tersebut, rombongan pun bersiap-siap untuk turun. Tidak jauh lebih menantang dari perjalanan naik, perjalanan turun pun menguras banyak tenaga, dan disinilah perjuangan kami kembali diuji. Disinilah cerita yang sesungguhnya dimulai, karena disaat seperti ini kami harus bersahabat dengan jalanan turun yang lumayan terjal dan curam.  beberapa dari kami terpaksa berjalan turun dengan tidak seperti biasanya. Berjalan dengan tidak menggunakan kaki melainkan mengandalkan kekuatan tangan sembari duduk beralaskan tanah. Kejutan tidak hanya disitu saja, saya mendapatkan hadiah berupa cidera di kaki, dan akhirnya saya pun kembali menghabiskan waktu yang cukup lama untuk kembali dengan ditemani oleh seorang romo yang sudah paham dengan jalur tersebut. Namun disitulah perjuangan yang sesungguhnya lebih menampakkan diri. Mengesampingkan rasa ego, malu, dan capek, mengedepankan rasa memiliki, melayani sesama, sabar menanti, peduli dan peka. Hingga kami semua boleh selamat berkumpul kembali bersama rombongan yang lain.
 


 Para Ngesoter

Bukan gunung yang kami taklukkan, melainkan menaklukkan diri sendiri dan keegoisan pribadi. Cepat atau lambatnya seseorang  bisa naik dan turun hingga sampai ditempat yang akan dituju bukanlah tujuan kami, melainkan yang terpenting adalah proses bagaimana kita menjalaninya dengan tekad dan semangat yang kuat. Mendaki ketinggian untuk mencapai kedalaman hati itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kami dan memampukan tiap dari kami untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

Rabu, 04 Juni 2014

We PROVE it

Bermula dari ajakan seorang kawan yang ingin menghabiskan waktu liburan di tempat yang menarik itu sangatlah menggiurkan apalagi dengan embel-embel "wisata kuliner". Tertarik?? pastinya donk.. namun apa dikata semua berbalik 180 derajat dari rencana semula, atau memang saya yang tidak terlalu update kali ya pada perkembangan diskusi yang terjadi dan parahnya saya baru tahu pergantian rencana tersebut pada malam hari sebelum keberangkatan. Karena ada sesuatu dan lain hal, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti perjalanan GJ tersebut. Yah, entah kenapa beberapa orang mengatakan perjalanan yang kami lakukan adalah perjalanan gak jelas dengan orang-orang yang gak jelas pula tongue


We PROVE it...
Disaat orang lain sibuk dengan bunga tidurnya, kami berempat harus bangun, mandi dan bersiap2 untuk memulai petualangan kami. Dengan berbekal tekad dan nekat yang kuat kami pun berencana berkumpul jam 04.30 di pintu keluar terminal Bungurasih. Kebimbangan pertama yang terjadi saat itu yaitu di tangan kami tidak ada selembar tiket apapun untuk memulai perjalanan, kereta atau bus, suatu pilihan yang sulit namun ternyata Tuhan masih berpihak pada kami sehingga tiket kereta api pun kami dapatkan, yah walaupun satu stasiun kedepan kami menjadi penumpang ilegal.

tet... tepat pukul 05.30 saya, mb Rosa, mb Sari dan Tian memulai perjalanan dengan menaiki kereta seharga Rp. 5.500, banyak cerita. banyak jepret-jepret sana sini, keusilan pun terjadi, menjadi salah satu coretan warna dalam kehidupan kami saat itu. Seharusnya tiket berhenti di St. Singosari, tapi kami malah jadi penumpang ilegal asal bisa berhenti di st. Kota Baru Malang agar bisa melanjutkan perjalanan ke JP 2 (*baca : Jatim Park 2). BIMBANG! itu yang saya rasakan tatkala kembali mendengar kalimat JP 2. Gimana tidak, sudah hampir 5 kali saya kesana, jika saya mengikuti trip ii lagi bakal menjadi perjalanan ke 6 yang saya lakukan untuk menjelajah JP 2. Namun akhirnya saya pun mengikuti perjalanan tersebut. Setelah berhenti di St. Kota Baru Malang, kamipun melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum hingga dua kali untuk sampai di JP 2.

Rasanya itu loh yang bikin kaya wong NDESO!! wkwkwkwk,, ndak tahu jalan, sok-sokan berangkat dengan mengandalkan cerita dari internet, dan mulai SKSD pada semua orang yang ditemui hanya untuk mendapatkan informasi bagaimana bisa sampai k JP 2. Tapi itulah serunya berpetualang, nilai plus dan applause lah ya buat kita berempat *memuji diri sendiri* big grin

Sesampainya di JP 2 kami memilih untuk membeli tiket terusan JP 2 dan eco Green Park. Pokok e mlaku-mlaku lah intine. Jepret sana jepret sini, action, bergaya, intinya selalu diabadikan. Mulai dari perjalanan di Eco Green Park, Batu Secret Zoo, hingga museum satwa. Liat satwa, mencoba permainan yang di sediakan, foto-foto, teriak-teriak, hingga mual pun dan dikeluarkan kembali isi dalam perut pun sudah dilakoni cool





Matahari pun segera kembali ke peraduan, membuat kami segera bergegas untuk kembali ke rumah kami masing-masing. Dan perjalanan pulang pun kami tempuh dengan menggunakan bus. 

Capek, lelah, ngantuk, sudah campur kaya gado-gado siap disajikan. Namun diatas semua itu, kepuasaan, kebanggaan, kebersamaan dan sukacita menempati posisi tertinggi bagi lembar petualangan kami. Bukan lagi perjalanan GJ seperti orang katakan, namun perjalanan yang LUAR BIASA dan kami buktikan itu bahwa kami BISA.

Di tunggu petualangan nge'GEMBEL selanjutnya ya kawan-kawan. Semoga tidak pernah ada rasa kapok untuk mencoba hal-hal baru.


Selasa, 08 April 2014

Ketika pilihan itu belum ada

“makane tobat ta nduk2..diettt. Banmu kelebihan beban taukkkk” kata seorang kawan.

Itulah tanggapan dari seorang teman ketika ku bercerita pada pagi itu bahwa aku sedang berada di tempat tambal ban. Bukan maksudku untuk ngecengin tukang tambal ban ataupun mencari alasan supaya aku bisa telat datang ke kantor, namun memang saat itu ban depan motor sedang tidak bisa diajak kerjasama akibat bocor. Dan yang bikin sebal, bukan karena harus menambal ban di saat harus berangkat kerja, melainkan baru saja kemarin sore ban motor bagian belakang yang bocor dan memaksaku harus menuntun sepeda tersebut lumayan jauh dari tempatku bekerja, sekarang gantian ban bagian depan yang bocor. Hmmm... ndak kebayang juga sih rasanya kalo aku yang jadi ban tertawa. Tapi emang bener-bener membawa sedikit kejengkelan, masa ya dalam kurun waktu hanya sebulan, aku diharuskan untuk menambal ban sebanyak 5 kali dan akhirnya mengharuskanq untuk mengganti ban dalam.

Terlepas dari kejadian itu, ada beberapa hal yang menarik. Sudah jauh-jauh jalan kaki sambil menuntun sepeda, dan aku masih tidak percaya bahwa dia bisa menambal ban, itulah yang kurasakan ketika tukang tambal ban yang pertama menambal ban belakang motorku.

"kok ndak sekolah? kelas berapa emang?", tanyaku.

"sudah tidak mb, malas melanjutkan sekolah pinginnya kerja aja. Sekarang mungkin kelas 3 SMP", jawabnya.

Deg!! jantung rasanya terpacu lebih cepat dan semakin membuat diriku ingin melanjutkan obrolan.

"Sudah lama kerja disini?", "hehehhee.. ndak mbak, cuma gantiin bapak sementara soalnya lagi sakit gigi. Kasihan"

Beda orang beda cerita, begitu pula yang terjadi padaku saat itu. Terlihat sekali perbedaan yang kurasakan dari obrolan ringan yang kami lakukan. Di satu sisi anak yang masih tergolong muda yang seharusnya di usia saat ini dia masih bisa mengenyam pendidikan di bangku sekolah namun lebih memilih untuk belajar dengan lingkungan sekitar. Di sisi yang lain, seorang bapak yang sudah berumur lebih dari setengah abad, masih tetap berusaha untuk bekerja dengan tenaga yang dimilikinya dibandingkan hanya duduk di rumah dan meminta dari anak-anaknya.

Memang pada saat itu pilihan yang lain belum ada dan berpihak pada mereka dan juga kepadaku, namun beberapa hal yang patut kupelajari. Mulai dari kemandirian, keramahan, dan selalu tersenyum terhadap apapun yang sedang dikerjakan. Dan satu hal lagi, aku memang harus sedikit mengurangi berat badan agar motor yang ku tumpangi tidak melakukan demo lagi rolling on the floor. Wismilak yo 





Kamis, 03 April 2014

Clungap Clungup ra di gatek

Clungap clungup ra di gatek, begitulah cetus seorang kawan ketika memotivasiku untuk menuliskan perjalanan selama liburan Nyepi tahun ini. Ya, memang begitulah keadaannya. Pantai yang masih alami, cantik, jernih, dan belum terjamah oleh banyak manusia, itulah yang membuatku tertarik untuk mengikuti ajakan touring kesana oleh seorang teman sebut saja ucil *bukan nama sebenarnya laughing. Sempat berpikir sejenak mengenai penyakit yang menempel sejak dari dulu dan takutnya menghambat perjalanan nantinya, pelor alias nempel molor. Dimanapun dan kapanpun mata ini ingin terpejam maka sudah tidak bisa lagi diajak kompromi walaupun sedang berkendara. Dan karena saya tidak seberapa kenal dengan rombongan Ucil yang akan kesana, maka ku ajak beberapa teman satu almamater saat SMA untuk mengikuti perjalanan yang sama. Penuh perjuangan memang, karena jarang sekali cewek mau diajak untuk touring menaiki sepeda motor, hingga mendekati hari H pun yang bisa dan pasti berangkat hanya aku dan salah seorang teman pria, sebut saja Nobel. Kalau memang pada gak mau dan gak bisa ya mau gak mau, terpaksa ataupun tidak, kami akan tetap berangkat berdua naik motor dan gabung dengan rombongan yang lain.

Tak disangka tak dinyana Tuhan masih berpihak kepadaku, akhirnya kami pun berangkat berlima..rolling on the floorndak lucu aja kalau kami paksakan tetap memulai perjalanan hanya aku dan Nobel, kalau nyasar ataupun terjadi sesuatu bukannya malah masuk album foto melainkan album kenangan.. hehehehehe. Mulai dari rayuan pulau kelapa hingga jalan yang terseok-seok pun di jabanin demi kelancaran kegiatan berlibur kali ini. Menyewa mobil di tempat persewaan yang rata-rata sudah full book  untuk long weekend kali ini, begitu dapat mobil ternyata kami harus mengambil mobil tersebut ditempat yang cukup jauh dari tempat Nobel tinggal, tidak hanya berhenti di situ saja, mobil yang kami sewa ternyata tidak secantik keliatannya, beberapa ada yang rusak namun yang paling parah adalah AC yang tidak menyalahot. Namun tidak mengurungkan niat kami untuk tetap melanjutkan perjalanan .

Taraaaaaa.........
Perjalanan pun kami mulai pada hari Minggu, 30 April 2014 pukul 05.00. Berangkat dari Sidoarjo menuju ke Malang Selatan memakan waktu kurang lebih 4,5 jam. Mulai dari nyasar, nyalain GPS, menggunakan CPS, hingga menggunakan iler *baca : tidur* untuk sampai ke pantai Goa Cina. Untung punya teman yang bisa merangkap sebagai supir yang handal, karena sukses kurang lebih 3/4 perjalanan kuhabiskan dengan tidur...whistling hahahahhaa.Tau-tau udah nyampe aja di pantai Goa Cina. Dan kalau diajak kesana lagi sudah pasti saya tidak bisa mengingat jalan dengan baik. Tidak Disangka pula ternyata rombongan Ucil menunda keberangakatan dikarenakan satu dan lain hal. 

BUSET! hanya kata itu yang bisa ku gambarkan ketika kami sampai di pantai tersebut, lautan manusia dari berbagai golongan, ras, agama, keyakinan, ukuran sepatu, ukuran pakaian dalam, de el el, ada semua ditempat itu. Ruameeee banget.. mulai dari orang yang bikin tenda, poto-poto sambil monyongin bibir, berenang, anak kecil berlarian, atau hanya sekedar minum kelapa muda big grin. Tidak banyak yang kami lakukan disana, hanya berjalan-jalan sejenak di tepian pantai, mampir ke goa cina yang konon katanya ada pertapa yang bermeditasi dan meninggal disitu, hingga berfoto bersama. Tak lama kemudian, kami mencoba untuk nekat menyusuri pantai demi tujuan kami yang paling utama yaitu pantai clungup. Jarak tempuh setengah jam perjalanan kaki, dengan beban berat yang kubawa *baca : bodi, kupaksakan untuk tetap melanjutkan perjalanan, ya demi sebuah kebersamaan dan daripada nyasar kalau balik sendirian.. wkwkwkwkwk. Melewati sawah, jalan di antara bukit, dibawah teriknya matahari, jalan dengan menggunakan pantat alias mbrosotan dan keringat yang sudah menimbulkan bau semerbak, akhirnya kami pun tiba di pantai Clungup. Manteb lah boleh ku bilang. Meskipun pada dasarnya aku tidak bisa membandingkan kecantikan pantai clungup dengan pulau Sempu, namun bagiku pantai itu sudah cukup cantik. Kejernihan air, angin yang semilir, gugusan pulau-pulau kecil yang ada, serta ketenangan yang tercipta inilah yang membuatku setuju dengan perkataan kawan tentang "ra di gatek" (*baca : tidak diperhatikan). Beda aku beda pula teman seperjalananku, duduk sejenak mengatur nafas agar tetap kembali normal, itulah yang kulakukan. Menikmati pemandangan yang telah disajikan didepan mata, menonton kawan-kawan yang sudah mulai bermain dengan air dan menyelam di permukaan, mencari bebatuan kecil yang unik dan berwarna, serta bermain pasir. Dan lagi-lagi kebersamaan itulah yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Sedih rasanya ketika tidak bisa ikutan bermain air dan menyelam bersama, namun apa mau dikata, alergiku akan bertambah gatal dan berwarna merah ketika berada di bawah terik matahari terlebih air laut yang asin. Lagi-lagi kuputuskan untuk beristirahat sembari menikmati angin dan obrolan dari kawan-kawan yang asyik bermain. Karena keasyikan, ak pun tertidur kembali ... hahahahha.. gemar amit ya ama yang namanya tidur rolling on the floor.

Waktu menunjukkan kurang lebih pukul 2 siang. Kami pun menghentikan segala aktivitas kami dan memulai kembali perjalanan menuju ke Goa Cina, tempat kami memakirkan kendaraan. Dan ternyata banyak pula yang antri di kamar mandi untuk membersihkan diri, mulai dari stok air tawar beberapa kamar mandi habis hingga air kelapa yang kami nikmati pun terbatas. Akhirnya kami bertolak dan memutuskan untuk mencari spbu untuk menumpang mandi disana. Perjalanan pun kami lanjutkan ke Batu Malang, dan tidak usah ditanya lagi karena pastinya kuhabiskan dengan tidur sepanjang perjalanan.. hehehehe.. maaf y guys. 

Ternyata di kota Malang pun tidak sesepi seperti di pantai Clungup, dimana-mana kemacetan  terjadi, mulai dari tempat wisata hingga tempat penginapan pun ramai oleh pengunjung yang sedang berlibur. Alhasil, kami harus menghabiskan malam dengan tidur di mobil... wkwkwkwk.. pengalaman pertama yang ruuuaaarr binasa. Sudah panas, tidur dengan posisi duduk dan dempet-dempetan pula *yah mengingat postur tubuhku yang cukup besar...xixixixixi* dan paginya kami menumpang untuk bebersih diri di rumah salah satu kerabat kawan kami. Cuuzzzzz lanjut ke Jatim Park 2 dan eco green park sebagai tujuan kami yang terakhir untuk menghabiskan liburan kali ini. Keliling, foto-foto, dan bermain dengan wahana yang ada dan kembali pulang ke Surabaya dengan kemacetan dan hawa yang panas peace sign soriii yo rek nek gak bisa liburan dengan maksimal gara-gara kepanasan di dalam mobil. 

Poto-Poto
- yes, we're -
                                                                                     - yes, we're -

- pesisir pantai goa Cina -
- pantai Clungup-

- Clungup -

- Pasir, batu, dan keunikannya-


- pantai clungup saat surut di siang hari -

- Eco Green Park -

- Jatim Park 2 -





Kamis, 06 Februari 2014

“It is not the mountain we conquer but ourselves.” ( Bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi diri sendiri ) - Edmund Hillary

Pa, bantuin "ngretek" punggung donk. "krak..krak..krak" itulah suara yang terdengar ketika papa membantu menekan bagian punggungq. Ya, itulah efek yang q rasakan semenjak 3 hari yang lalu turun dari Gunung penanggungan (14 Januari 2014). Inilah perjalanan pertama pendakianku di tahun 2014, antara terjebak dengan keinginan mencoba, keinginan untuk berkumpul dengan kawan lama, dan keinginan untuk mengisi waktu liburan daripada bengong sendirian di rumah...hehehhee

Yah, perjalanan pun dimulai dengan kebimbangan karena semakin mendekati hari H, teman-teman terdekat memutuskan untuk tidak bisa mengikuti trip ini. Belum lagi ajakan dari kawan-kawan SMA yang mengadakan trip yang lebih menyenangkan ke G. Kelud, larangan mama yang gak ngebolehin mendaki gara2 cuaca yang tidak mendukung. Sehingga berbekal nekat dan rayuan disana sini, akhirnya aku pun berhasil menjebak dua orang temanq untuk mengikuti perjalananq ini. Detik2 disaat keberangkatan pun, banyak banget halangan yang dialami, mulai dari kepulangan kantor yang telat gara-gara dapet tugas dadakan dari pak bos yg urgent bin darurat, deg deg derrr karena ternyata ada desus mbak yang nyebelin bin  ngebetein bakal ikut dalam trip ini, celingak celinguk mencari rumah sang pemilik tenda, membawa pulang dua tenda dan 3 sleeping bag d bagian depan motor, hingga teman2 dari Gresik yang tidak mendapat angkutan umum Damri untuk di tumpangi hingga ke Bungurasih, belum lagi lupa membeli tabung gas untuk persiapan masak disana. RIBET adalah kata yang tepat menggambarkan kondisi disaat itu. Tapi akhirnya cerita perjalanan pun dimulai. Dengan berbekal dari belas kasihan papa yang mau mengantarkan anaknya, kami pun sampai di terminal Pandaan, bertemu dengan rekan seperjalanan yang lain dan dijemput oleh romo Endro untuk membantu kami sampai di kaki gunung Penanggungan.

Here we go!!
Dengan tim yang berjumlahkan 12 orang, kami memulai perjalanan tersebut dari titik yang dinamakan Rondo Kuning, dekat dengan Ubaya Trade Center. Lupa waktu itu menunjukkan jam berapa, yang pasti disaat orang lain terlelap dan terbuai dalam mimpi, kami harus melawan udara dingin dan jalan yang becek untuk menjelajahi gunung itu. Diantara 12 orang itu, tetap saya yang bertubuh paling tambun dan paling lemah kondisinya berguling di lantai abisnya udah bawa badan yang lumayan berat, tas yg cukup lumayan berat, harus menahan ngantuk yang berat juga *edisi berat. Oleh karena itu, tim pun terbagi menjadi dua. Tim yang pertama melesat dengan cepat beranggotakan 4 orang pria dan satu orang wanita, sedangkan tim kedua yang berjalan perlahan namun pasti *pasti lamanya tapi... hahahaha* beranggotakan 3 pria dan 4 wanita. Weh,, benar-benar perjalanan yang melelahkan, perjalanan yang lumayan menanjak mengakibatkan saya harus jatuh bangun, untungnya cuma sekali doank tersenyum lebar, menghabiskan hampir 1.5 Liter air mineral, dan menahan berat tubuh saya dengan botol minuman tersebut. Setiap kali ada kesempatan berhenti, selalu yang saya pikirkan adalah kapan bisa memasang sleeping bag.. wkwkwkwkwk... saya pergunakan untuk tidur walaupun hanya sempat memejamkan mata sejenak. Disaat yang lain berusaha untuk cepat naik agar bisa beristirahat, selalu ada mb Silvana, mz Yestri dan mz Bram yang selalu menemani dan menguatkan saya dikala saya harus merehatkan tubuh *takut saya kenapa-kenapa kali ya. soalnya pasti gak ada yang bisa gotong tubuh saya kalau memang terjadi apa-apa.. hehehehe menjulurkan lidah*. Tapi ku akui, pemandangan didepan mata kami begitu nampak luar biasa, gunung Arjuna yang menjulang tinggi, lampu-lampu kota yang semarak dan berkelipan. Kok ya untung tidak ada badai dan hujan saat itu, jadi langit pun nampak bersih. Oiya, satu hal, berhubung kami naik pada musim hujan, masih banyak pohon dan rerumputan disekitar kami.

Tet tot...
Tepat jam setengah tiga pagi, akhirnya kami sampai juga di Latar Amba. Tempat yang cukup luas dan banyak sekali yang berkemah disana, namun apa daya karena kami mengejar untuk sampai puncak, kami hanya diberi waktu 10 menit untuk beristirahat tanpa memasang tenda.

"berasa kaya korban perang"

Sepuluh menit pun berlalu dengan begitu cepat. Tanpa mau mengerti perasaanku saat itu, mz Bram selaku satpam siaga tersenyum lebar membangunkan kami semua untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Semakin parah saja perjalanan kami..ckckckck..berasa kaya rock climbing, kami harus mengalahkan jalanan yang cukup terjal bagiku, dengan bebatuan yang sangat sangat sangat sangat tidak bersahabat *lebay*. Setiap 3 hingga 4 langkah, harus menghentikan tim untuk memberikan waktu bagiku beristirahat. Oalah yo, kapan perjalanan ini akan berakhir pikirku. Seandainya ada kamera, pasti tanganku sudah melambai menandakan aku sudah menyerah. Lagi-lagi tiga orang penyelamat itu selalu menyemangatiku *luph you guys* jatuh cinta
Pose di tengah bebatuan

Hampir mendekati puncak, hampir tidak ada vegetasi yang hidup kecuali rumput, tersisa aku dan mz Bram yang berada di akhir kelompok. Rm. Sabas pun akhirnya turun untuk sekedar melihat kami. Salah deng, ngece lebih tepatnya... hahahaha.. tapi kok ya punya romo yang baik tuh enak, sisa perjalanan ke puncak, aku digeret layaknya sapi *LHO!!!. Dengan berbekal sarung andalan beliau yang entah bekas ngiler semalam, aku ditarik hingga sampai ke puncak. Disambut sorakan oleh kawan-kawan yang lain dan jepretan foto oleh romo Eko, akhirnya aku berhasil sampai ke puncak.

Gresik United tersenyum lebar

Sleeping Bag, I'm coming...
Setelah puas dan menikmati pemandangan sejenak, akhirnya kami pun turun ke lembah (sepertinya bekas kawah dulunya). Disana sudah pada berkumpul para seminaris, romo, dan kawan-kawan lain yang sempat mendirikan tenda dan lebih dulu melakukan perjalanan sore hari. Numpang masak mie, minum energen, menyapa beberapa orang yang kukenal dan tidur serta kangen-kangenan ama sleeping bag pun kulakukan... hahahahaha.
Karena mayoritas beragama Katolik, kurang lebih pukul 08.30, misa kudus dengan selebran romo Eko pun dimulai. Yah, ini juga misa pertamaku ketika perjalanan mendaki. Seru, keren, tidak begitu formal, berasa artis (banyak yang jepret-jepret pake kamera sih.. wkwkwkwk), namun tetap kusuk ditemani hembusan angin yang lumayan kencang. Terima kasih karena masih diberikan kesempatan untuk menerima komuni kudus di ruang terbuka.

Setelah selesai perjamuan kudus, saatnya berbenah diri dan waktunya untuk pulang. Tepat pukul 11 siang, kami pun mulai turun.
Tim Malam

BUSET!!! perjalanan turun pun tidak jauh lebih parah ketika perjalanan naik. Kami melewati rute yang berbeda ketika kami turun. Sengaja dilewatkan jalur barat yang nantinya kami bisa melihat peninggalan-peninggalan bersejarah. Kali ini selain botol air mineral, tongkat pun menjadi peralatan perang yang kubawa. Jalanan terjal dan curam (kurang lebih kemiringan 60 derajat), serta kerikil dan bebatuan kecil yang  membuat kami agak berhati-hati ketika turun serta berundak-undak. 

Medan perjalanan turun

Di beberapa titik, kami beristirahat ditempat dimana ada candi. Saling bercanda, minum susu jahe, dan kembali melanjutkan perjalanan, itulah rutinitas kami hampir kurang lebih selama 4 jam. 
POse dulu "cheese"


Mulai dari ada beberapa orang yang tersesat karena mereka merasa tahu jalan, mb Silvana yang merasa kecapean karena membawa dua tas punggung yang lumayan berat, hingga mz Yestri yang sangat kelelahan karena perjalanan terlalu lama dikarenakan dia rela menemani temannya yang bertubuh tambun untuk berjalan agak sedikit lambat dari yang lain *baca: aku. Tepat pukul 16.30, kami pun sampai di lokasi candi Jolotundo, lokasi terakhir sekaligus titik akhir dari perjalanan kami. Sueneng, campur legrek campur capek campur remek, itulah yang kurasakan. Dengan menumpang mobil pick up milik Jatijejer, kami pun dihantarkan pulang kembali ke titik awal UTC. Disana pun aku boleh bertemu kembali dengan papa yang menjemputku. ZzzzZzzz, perjalanan pulang kembali ke Surabaya pun diisi dengan tidur dan keringat yang bercampur aduk. hehehehhee



"It is not the mountain we conquer but ourselves. (Bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi diri sendiri) - Edmund Hillary"


itulah judul album foto milik mz Bram di media sosial. Setelah kupikir, ada benarnya juga kalimat tersebut. Bagiku, bukan gunung Penanggungan yang ku taklukkan, melainkan rasa kantuk,rasa lapar, rasa capek dan kekhawatiran terhadap diriku sendiri. Dan rasa terima kasih yang begitu besar untuk tim yang selalu support aku terutama untuk mb Silvana yang unyu dan enerjik, mz Yestri yang kalem dan begitu sayang terhadap saudara seperti saya, dan mz Bram yang selalu nampak garang namun selalu membantu saya.




Rabu, 29 Januari 2014

Ketika suatu gelar menjadi tidak ada nilainya ...

"Nanti bantu aku untuk melihat apa saja pengeluaran yang dikeluarkan ya", "siap pak, saya usahakan". Itulah sepenggal obrolanku dengan pimpinan di kantor kami. Ya begitulah cara saya menyanggupi tugas yang diberikan oleh kantor untuk mengikuti truk compactor yang beberapa bulan ini mulai mengisi hiruk pikuk kota Surabaya tercinta. Yang terbersit saat itu hanyalah bau sampah yang begitu menyengat dan bagaimana cara merayu orang tua supaya tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan saya. Saat itu yang saya punya hanya niat dan tekad seorang bonek tersenyum lebar *itulah orang muda.. hahahaha.. pembelaan.

Saya masih ingat, waktu itu hari Senin, sehari sebelum perjalanan mengesankan dimulai, saya pun diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bapaknya anak-anak alias bapak yang biasa mengatur 5 unit compactor yang dimiliki pemkot Surabaya (*sebut saja namanya pak Bas). Sowan sekaligus meminta ijin untuk ikutan keliling dan merasakan naik mobil bebas hambatan bangga diri. Dipilihlah rute TPS Pandegiling dan kawasan Suramadu Simpang Dukuh sebagai rute terpanjang. Ku pilih untuk mengikuti rute pandegiling terlebih dahulu, dan yang lebih bikin kaget bukan kepalang, mereka mulai berangkat dari Dinas Pertamanan dan Kebersihan kota Surabaya pukul 04.30 wib. BUSET!!! harus berangkat jam berapa ini mata berputar. Boro-boro mikir berangkat jam berapa, yang seharusnya dipikir malah bangun jam berapa dan bisa tidaknya mata diajak kompromi untuk bangun jam segitu tertawa. Saatnya untuk menyiapkan jubah perang dan segala perlengkapan lain. Tak lupa titip seorang kawan yang biasa ngeronda untuk menjadi alarm hidup tatkala alarm hp tak mampu kudengar berguling di lantai.

Hari pertama, sukses alarm hp bisa ku dengar dalam sekali bersuara, bergegas mandi lalu berangkat ke DKP yang terletak di dekat pasar Menur, Surabaya. Kondisi jalan yang masih sepi ditemani beberapa lampu jalan yang masih menyala, menahan dinginnya suasana pagi itu, dan harus balapan dengan tukang sayur maupun tukang daging yang akan menjajakan barang dagangannya, itulah sensasi yang kurasakan tatkala harus mengemban tugas negara *lebay dikit tersenyum lebar. TET! pas jam setengah lima, sudah ku sandarkan motor perangku di dekat garasi mobil ambulans, kemudian mendekati mobil perangku nantinya, mencoba berkenalan dan berpikir gimana caranya aku naik ya  berguling di lantai. Yah, dengan tubuhq yang tidak seberapa tinggi, dan lemak bertebaran dimana-mana alias gendut, ku beranikan untuk mencoba mengalahkan rasa takut jatuh dan mengalahkan rasa capek menahan berat badan hanya untuk menaiki mobil tersebut (masalahnya kalo ndak ikutan naik, masa ya ngikutnya jalan kaki tidak mau lihat). 
mobil perang C-02

Sebut saja C-01, C-02, dst, itulah nama yang diberikan untuk masing-masing compactor, dengan operator bernama pak Satrawi seorang operator yang sudah berumur namun masih berjiwa muda...hehehehe... truk C-02 melaju dengan santai. Kumis yang menempel hampir menutupi bibir atasnya, berperawakan tinggi dan kurus *berkebalikan dengan kondisiq.. hehe.. , tapi sangat takut dengan hal-hal yang berbau mistis *tidak sesangar tampangnya tertawa . Mulai dari pengambilan sampah dibeberapa titik sepanjang jalan Urip Sumoharjo, hingga pengambilan sampah yang tidak tertata di pinggiran jalan Pandegiling sebelah barat tak luput dari jalur operasi C-02. Dengan beranggotakan tiga orang, pak Wi, Pak Rohman dan satu lagi saya lupa namanya karena tidak sempat berkenalan, mereka dengan sigap memasukkan sampah-sampah tersebut kedalam compactor.



 




Penampakan sebelum pembersihan












Penampakan sesudah dibersihkan





Perjalanan menuju benowo...
Eng..ing..eng.. matahari pun enggan menampakkan diri, puji Tuhan ku haturkan, karena hampir seharian di hari pertamaku, aku bisa menikmati angin sepoi-sepoi ditemani lagu campur sari dan ini merupakan pengalaman pertamaku memasuki tempat pembuangan akhir (TPA) Benowo. Bau busuk mulai tercium dan sangat mengganggu tatkala kami sedang mengantri untuk menimbang muatan. Tapi bau itu seketika hilang ketika truk sampah yang mengantri didepan kami telah hilang dari hadapan. Tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya, TPA Benowo saat ini, bau yang menyengat hanya di beberapa titik saja, tidak di semua tempat. Tapi perasaan itu berubah ketika turun dari truk untuk sekedar melihat-lihat. Bau, becek, heran dan takjub campur aduk menjadi satu. Bau ketika sampah mulai diturunkan dari compactor kami, becek karena air lindu sisa pembuangan, heran karena banyak sekali sapi yang berada disana dan gemuk-gemuk pula, takjub karena banyak orang rela melakukan apapun demi menghidupi dirinya atau keluarganya bahkan sesuatu yang dapat mengancam kehidupan. Semakin lama saya berada di dalam truk, semakin banyak pula orang yang melihat diriku.. hehehe.. bukan karena aku cantik melainkan karena jarang sekali ada wanita yang mau menaiki truk, apalagi truk sampah. Merasa keren tentunya, tertantang juga, tapi yang lebih penting, sebagai orang baru saya sudah dianggap keluarga oleh keluarga compactor. Saya selalu diajak bercerita tentang kehidupan pribadi beberapa orang, ditawarin makan *mungkin kalo yang ini biar saya ndak kurus.. hahahaha, saya juga dijaga dari orang-orang yang mungkin berniat usil terhadap saya.


Menantang bahaya

Sapi pun makan dari sisa pembuangan

Setelah keluar dari TPA, kami pun berbelok sedikit melenceng dari rute, menuju ke sebuah warung kopi dekat gelanggang olah raga bung Tomo. Tambah terkejutlah saya ketika kami menginjakkan kaki di warung tersebut. Warung berukuran sekitar 4 x 5 itu cukup bersih dan ditungguin seorang cewek yang lumayan cantik.. wkwkwkwk.. jangan berpikiran negatif dulu, itu yang ada dipikiranku saat itu. Mbaknyak menjaga warung itu seorang diri, dimana para pengunjung yang datang rata-rata pria. Berani dan Semangat!! dua kata yang cocok kusandangkan untuk mbaknyak. Demi untuk bayar uang jajan dan kuliahnya, dia rela membuka warung. Beberapa pekerjaan yang dulu pernah dilakoni, tidak membuat dia merasa senyaman kerja sendiri seperti sekarang. Salut deh buat mbaknyak, semoga kelak menghasilkan buah yang manis buat jerih payah yang kau lakukan saat ini. SMANGKA!! hebat



Hari Kedua dan ketiga hampir sama rutinitas yang kujalani, berangkat subuh, ngedata kilometer brapa sudah berjalan, isi bensin, ngobrol, makan, dan tidur di iringi lagu campur sari serta dangdut tersenyum lebar.  Ya, tiga hari kujalani dengan rutinitas yang sama namun dengan rute yang berbeda dan teman seperjalanan yang berbeda. Tapi dari perjalanan tersebut banyak sekali ilmu baru yang kuambil, mulai ilmu yang kudapat dan kusimpulkan sendiri, bagaimana kita mampu berbagi dengan sesama (contohnya, sarapan bareng-bareng, dengan lauk seadanya dan dibagi-bagi), hingga ilmu tentang keluarga serta asmara yang kudengar dari cerita pak Awang serta Pak Wi.


Hidup dipandang bukan dari seberapa banyak yang kita miliki, namun seberapa banyak kita dapat bersyukur dan menikmati apa yang sudah menjadi jalan hidup kita saat ini ^^.
Disaat itulah sebuah gelar menjadi tidak ada nilainya.


GALERI
Setinggi inilah aku harus memperjuangkan tubuhku untuk menaikinya *lebay








Beginilah cara kerja truk compactor yang baru :)






Keringatmu permata bagiku




Cara kerja compactor ketika mengeluarkan sampah 






Model truk sampah yang lama









(: Keluarga compactor :)