Selasa, 08 April 2014

Ketika pilihan itu belum ada

“makane tobat ta nduk2..diettt. Banmu kelebihan beban taukkkk” kata seorang kawan.

Itulah tanggapan dari seorang teman ketika ku bercerita pada pagi itu bahwa aku sedang berada di tempat tambal ban. Bukan maksudku untuk ngecengin tukang tambal ban ataupun mencari alasan supaya aku bisa telat datang ke kantor, namun memang saat itu ban depan motor sedang tidak bisa diajak kerjasama akibat bocor. Dan yang bikin sebal, bukan karena harus menambal ban di saat harus berangkat kerja, melainkan baru saja kemarin sore ban motor bagian belakang yang bocor dan memaksaku harus menuntun sepeda tersebut lumayan jauh dari tempatku bekerja, sekarang gantian ban bagian depan yang bocor. Hmmm... ndak kebayang juga sih rasanya kalo aku yang jadi ban tertawa. Tapi emang bener-bener membawa sedikit kejengkelan, masa ya dalam kurun waktu hanya sebulan, aku diharuskan untuk menambal ban sebanyak 5 kali dan akhirnya mengharuskanq untuk mengganti ban dalam.

Terlepas dari kejadian itu, ada beberapa hal yang menarik. Sudah jauh-jauh jalan kaki sambil menuntun sepeda, dan aku masih tidak percaya bahwa dia bisa menambal ban, itulah yang kurasakan ketika tukang tambal ban yang pertama menambal ban belakang motorku.

"kok ndak sekolah? kelas berapa emang?", tanyaku.

"sudah tidak mb, malas melanjutkan sekolah pinginnya kerja aja. Sekarang mungkin kelas 3 SMP", jawabnya.

Deg!! jantung rasanya terpacu lebih cepat dan semakin membuat diriku ingin melanjutkan obrolan.

"Sudah lama kerja disini?", "hehehhee.. ndak mbak, cuma gantiin bapak sementara soalnya lagi sakit gigi. Kasihan"

Beda orang beda cerita, begitu pula yang terjadi padaku saat itu. Terlihat sekali perbedaan yang kurasakan dari obrolan ringan yang kami lakukan. Di satu sisi anak yang masih tergolong muda yang seharusnya di usia saat ini dia masih bisa mengenyam pendidikan di bangku sekolah namun lebih memilih untuk belajar dengan lingkungan sekitar. Di sisi yang lain, seorang bapak yang sudah berumur lebih dari setengah abad, masih tetap berusaha untuk bekerja dengan tenaga yang dimilikinya dibandingkan hanya duduk di rumah dan meminta dari anak-anaknya.

Memang pada saat itu pilihan yang lain belum ada dan berpihak pada mereka dan juga kepadaku, namun beberapa hal yang patut kupelajari. Mulai dari kemandirian, keramahan, dan selalu tersenyum terhadap apapun yang sedang dikerjakan. Dan satu hal lagi, aku memang harus sedikit mengurangi berat badan agar motor yang ku tumpangi tidak melakukan demo lagi rolling on the floor. Wismilak yo 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar