Selasa, 12 Agustus 2014

Mendaki ketinggian untuk mencapai kedalaman Hati bersama para ngesoter’s


Orang bilang, hidup itu selalu penuh dengan kejutan. Itulah yang terjadi padaku saat ini.

Bermula dari titik awal perjalanan kami di desa Tambak Watu kecamatan Purwodadi, kabupaten Pasuruan, jalur yang akan kami lalui merupakan salah satu jalur spritual dimana setiap pos yang dilewati masih sering didatangi para peziarah untuk bermeditasi dan berdoa. Desa Tambak Watu merupakan desa terakhir dan sekaligus merupakan pos pendaftaran sebelum memulai perjalanan pendakian ini. Dengan membayar iuran kas desa dan pemerintah sebesar Rp. 8000/orang, kami pun diijinkan untuk memulai perjalanan.

Medan yang  berbatu-batu dan senantiasa terus menanjak, selalu menemani langkah perjalanan kami hingga sampai ke puncak. Satu demi satu pos dan padepokan pun kami lalui. Pos pertama Guo Onto Boego, kemudian Tampuono, padepokan Eyang Sakri, padepokan eyang Semar, dan pos terakhir tempat dimana kami menginap yaitu Mahkutoromo. Selain diantara pos-pos tersebut, kita juga akan menemukan beberapa tempat untuk peziarahan, diantaranya padepokan eyang Sekutrem, eyang Abiyoso, Dewi Kunthi dan pos Syang Hyang Wenang yang bertuliskan huruf aksara jawa.

Melanjutkan perjalanan dengan membelah hutan yang lebat dan menyusuri kembali jalanan yang terjal untuk menuju puncak bukanlah hal yang mudah bagi kami yang tidak terbiasa mendaki gunung. Namun semua rasa lelah terbayarkan ketika mata ini dimanjakan dengan pemandangan alam yang begitu luar biasa. Gemerlap lampu kota di bawah kaki gunung, bintang-bintang yang bertaburan diangkasa, beberapa jenis bunga yang indah dan berwarna-warni serta hawa sejuk yang tidak akan pernah kita dapatkan sebagai penduduk kota tak luput kami dapatkan tatkala dalam proses perjalanan menuju ke puncak.

 

 Puncak Gn. Semeru dari badan Gn. Arjuna


Mendadak hampir tidak ada satu kata pun yang dapat ku ucap selain melamun dengan senyum tatkala ketika pagi itu bisa menikmati saat mentari mulai bersinar dengan begitu indah. Kehangatan mentari yang boleh kami rasakan ketika hampir kurang lebih 6 jam kami melakukan perjalanan menuju ke puncak Gn. Arjuna. Pesona alam yang disajikan serta kehangatan canda tawa teman-teman menggugah niat dan semangat untuk menuju ke puncak dan membawaku hingga ke ketinggian 3339 mdpl dengan waktu tempuh total perjalanan sekitar sembilan setengah jam perjalanan lambat. Rasa haru dan bangga bercampur jadi satu tatkala kami berhasil mendaki hingga ke puncak.


 






Beberapa saat setelah mengabadikan momen tersebut, rombongan pun bersiap-siap untuk turun. Tidak jauh lebih menantang dari perjalanan naik, perjalanan turun pun menguras banyak tenaga, dan disinilah perjuangan kami kembali diuji. Disinilah cerita yang sesungguhnya dimulai, karena disaat seperti ini kami harus bersahabat dengan jalanan turun yang lumayan terjal dan curam.  beberapa dari kami terpaksa berjalan turun dengan tidak seperti biasanya. Berjalan dengan tidak menggunakan kaki melainkan mengandalkan kekuatan tangan sembari duduk beralaskan tanah. Kejutan tidak hanya disitu saja, saya mendapatkan hadiah berupa cidera di kaki, dan akhirnya saya pun kembali menghabiskan waktu yang cukup lama untuk kembali dengan ditemani oleh seorang romo yang sudah paham dengan jalur tersebut. Namun disitulah perjuangan yang sesungguhnya lebih menampakkan diri. Mengesampingkan rasa ego, malu, dan capek, mengedepankan rasa memiliki, melayani sesama, sabar menanti, peduli dan peka. Hingga kami semua boleh selamat berkumpul kembali bersama rombongan yang lain.
 


 Para Ngesoter

Bukan gunung yang kami taklukkan, melainkan menaklukkan diri sendiri dan keegoisan pribadi. Cepat atau lambatnya seseorang  bisa naik dan turun hingga sampai ditempat yang akan dituju bukanlah tujuan kami, melainkan yang terpenting adalah proses bagaimana kita menjalaninya dengan tekad dan semangat yang kuat. Mendaki ketinggian untuk mencapai kedalaman hati itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kami dan memampukan tiap dari kami untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

1 komentar: